SOSIOLINGUISTIK



PORTOFOLIO
TUGAS SOSIOLINGUISTIK
Disusun oleh :
Nurlovi Lestari


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2012











Variasi Bahasa
(VARIASI REGIONAL, VARIASI SOSIAL, DAN STUDI VARIASI)
 
Oleh: Firdawati, S.Pd.
A.  Pendahuluan
Topik yang paling populer dan utama dalam sosiolinguistik adalah variasi bahasa. Berkembang pendapat bahwa sosiolinguistik adalah disiplin ilmu yang menelaah variasi bahasa atau bahasa dalam masyarakat.
Variasi bahasa dipandang sebagai suatu fenomena kebahasaan yang memiliki dua sisi. Dari sisi internal, variasi dianggap sebagai suatu varian yang tidak memberi pengaruh. Sementara dari sisi lainnya yaitu sudut sosiolinguistik, variasi ”dicurigai” karena mengandung makna tertentu.
Pada tulisan ini akan dijelaskan tentang variasi bahasa yang mencakup regional dan variasi sosial. Selain itu dijelaskan beberapa studi tentang variasi bahasa.
 B. Variasi Bahasa
Variasi bahasa merupakan pokok bahasan dalam studi sosiolinguistik, sehingga Kridalaksana (1974, dalam Chaer dan Agustina 2004:61) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang menjelaskan ciri-ciri variasi bahasa dan menetapkan korelasi ciri-ciri bahasa tersebut dengan ciri-ciri sosial kemasyarakatan.
1. Jenis Variasi Bahasa
Wardhough (1990:127) membedakan variasi bahasa menjadi variasi regional dan variasi sosial. Kedua variasi bahasa tersebut akan dijelaskan berikut ini:


  1. Variasi Regional
Di masa lampau ketika teknologi komunikasi dan perkembangan media masa belum semaju sekarang, orang dapat menyaksikan betapa gunung dan sungai memisahkan kelompok-kelompok manusia yang menyebabkan munculnya perubahan-perubahan bahasa. Misalnya di Inggris pada pengucapan kata-kata bahasa Inggris oleh orang-orang London, Manchester, dan Hyde. Kata ’brush’ orang London mengucap [brLs], orang Manchester mengucapkan [bras], dan orang Hyde mengucapkan [brais]. Di Indonesia misalnya kata cengkeh, orang Batak Karo menyebut singke, orang Minangkabau menyebut cangkeh, orang Lampung menyebut cangkih, orang Madura menyebut cengke, dan orang Flores menyebut singke (Wijayakusuma, 1996:35)
Contoh-contoh di atas membuktikan bahwa karena rintangan geografis seperti gunung dan sungai, bahasa yang tadinya merupakan satu alat komunikasi bersama yang seragam antar kelompok mengalami perubahan sebagai akibat dari perpindahan kelompok-kelompok manusia itu dari lokasi yang satu ke lokasi yang lain. variasi bahasa yang disebabkan oleh faktor-faktor geografis ini menciptakan bahasa baru yang mungkin masih dipahami oleh semua kelompok penuturnya, namun telah mengalami berbagai perubahan. Bahasa baru ini disebut dialek.
  1. Variasi Sosial
Kehidupan sosial dalam masyarakat sangat mempengaruhi tingkah laku berbahasa. Kedudukan sosial atau kelas sosial mengacu kepada golongan masyarakat yang mempunyai kesamaan tertentu dalam bidang kemasyarakatan seperti ekonomi, pekerjaan, pendidikan, kedudukan, kasta dan sebagainya.
Seorang individu mungkin mempunyai status sosial yang lebih dari satu. Misalnya si A adalah seorang guru yang suaminya seorang pejabat. Jika dia seorang guru PNS, dia masuk ke dalam kelas pegawai negeri dan juga masuk ke dalam kelas istri pejabat. Ketika dia berkomunikasi dengan sesama PNS, bahasa yang digunakannya akan berbeda ketika dia berkomunikasi dengan teman-temannya sesama istri pejabat. Variasi ini menyebabkan munculnya ragam-ragam khusus yang lazim dituturkan oleh masing-masing kelompok tersebut yang dinamakan sosiolek.
Dalam pengkajian sosiolek ditemukan beberapa istilah yang menunjukkan adanya variasi tertentu yang menghasilkan ragam-ragam bahasa tertentu pula. Istilah yang terkait dengan sosiolek adalah (1) akrolek, (2) basilek, (3) vulgar, (4) slang, (5) kolokial, (6) jargon, (7) argot, dan (8) ken (Nursaid dan Maksan, 2002:177).
Akrolek adalah ragam bahasa sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi daripada ragam sosial lainnya. Basilek adalah ragam bahasa sosial yang dianggap sebagai ragam yang kurang bergengsi atau dipandang rendah. Vulgar adalah variasi sosial yang digunakan oleh kelompok yang kurang terpelajar atau kurang berpendidikan. Slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia. Slang bersifat temporal karena slang pada suatu saat yang akan dilupakan dan muncul slang lain yang lebih baru. Pemakai slang kebanyakan adalah golongan remaja. Kolokial adalah variasi bahasa yang dipergunakan dalam percakapan sehari-hari. Ragam kolokial tidak digunakan dalam bahasa tulis. Jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok sosial tertentu. Ungkapan dalam bahasa jargon kurang dipahami oleh kelompok luar namun tidak bersifat rahasia. Umpamanya bidang kedokteran, politik dan ekonomi. Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi tertentu dan bersifat rahasia. Contoh argot dalam masyarakat Indonesia adalah bahasa kaum atau kelompok waria. Ken adalah variasi sosial tertentu yang bernama memelas, dibuat-buat, merengek-rengek, dan penuh kepura-puraan, biasanya digunakan oleh para pengemis.
Studi Variasi Bahasa
Contoh penelitian variasi bahasa adalah penelitian yang dilakukan oleh Lili Suryani (2001) yang berjudul Register Bahasa Waria di Kota Padang (Suatu Tinjauan Deskriptif). Berdasarkan penelitiannya, Lili Suryani menyimpulkan bahwa bentuk register yang dipakai di kalangan waria adalah (1) mempunyai bentuk kosakata yang khas (berasal dari bahasa Indonesia dan bahasa asing), (2) dalam bentuk kata, terjadi pada suku kata terakhir dengan cara memutarbalikkan susunan suku kata, dan ada yang ditambah dengan fonem tertentu, dihilangkan fonemnya, atau kombinasi keduanya, dan (3) makna kosakata mengalami dua perubahan, yaitu perubahan makna kata tersebut tidak berubah dari makna dasarnya, dan jenis perubahan makna terjadi karena terdapat nilai rasa penghalusan.
Penutup
Perbedaan geografis dan status sosial menyebabkan munculnya variasi bahasa. Kondisi greografis yang memisahkan kelompok masyarakat menyebabkan perubahan bahasa yang digunakan yang disebut dialek. Status atau kelas sosial yang berbeda juga menghasilkan perbedaan bahasa yang disebut sosialek.
Penelitian tentang sosiolinguistik khususnya variasi bahasa adalah salah satu penelitian yang sangat menarik untuk diteliti. Walaupun telah banyak dilakukan penelitian baik di dalam maupun di luar negeri tidak tertutup kemungkinan untuk dilakukan penelitian selanjutnya.
Variasi Bahasa

Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Kedua pandangan ini dapat saja diterima ataupun ditolak. Yang jelas, variasi bahasa itu dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan didalam masyarakat sosial. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register). Berikut ini akan dibicarakan variasi-variasi bahasa tersebut, dimulai dari segi penutur ataupun dari segi penggunanya.

1. Variasi dari Segi Penutur
Pertama, idiolek, merupakan variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Setiap orang mempunyai idiolek masing-masing. Idiolek ini berkenaan dengan “warna” suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dsb. Yang paling dominan adalah warna suara, kita dapat mengenali suara seseorang yang kita kenal hanya dengan mendengar suara tersebut Idiolek melalui karya tulis pun juga bisa, tetapi disini membedakannya agak sulit.
Kedua, dialek, yaitu variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada di suatu tempat atau area tertentu. Bidang studi yang mempelajari tentang variasi bahasa ini adalah dialektologi.
Ketiga, kronolek atau dialek temporal, yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Sebagai contoh, variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, lima puluhan, ataupun saat ini.
Keempat, sosiolek atau dialek sosial, yaitu variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan dan kelas sosial para penuturnya. Dalam sosiolinguistik variasi inilah yang menyangkut semua masalah pribadi penuturnya, seperti usia, pendidikan, keadaan sosial ekonomi, pekerjaan, seks, dsb. Sehubungan dengan variasi bahasa yang berkenaan dengan tingkat, golongan, status, dan kelas sosial para penuturnya disenut dengan prokem.
2. Variasi dari Segi Pemakaian
Variasi bahasa berkenaan dengan penggunanya, pemakainya atau fungsinya disebut fungsiolek, ragam atau register. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingkat keformalan dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaian ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya, bidang sastra, jurnalistik, pertanian, militer, pelayaran, pendidikan, dsb.
3. Variasi dari Segi Keformalan
Menurut Martin Joos, variasi bahasa dibagi menjadi lima macam gaya (ragam), yaitu ragam beku (frozen); ragam resmi (formal); ragam usaha (konsultatif); ragam santai (casual); ragam akrab (intimate). Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi khidmat dan upacara resmi. Misalnya, dalam khotbah, undang-undang, akte notaris, sumpah, dsb. Ragam resmi adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, ceramah, buku pelajaran, dsb.
Ragam usaha adalah variasi bahasa yang lazim digunakan pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, ataupun pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi. Wujud ragam ini berada diantara ragam formal dan ragam informal atau santai.
Ragam santai adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dangan keluarga atau teman pada waktu beristirahat, berolahraga, berekreasi, dsb. Ragam ini banyak menggunakan bentuk alegro, yakni bentuk ujaran yang dipendekkan.
Ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubngannya sudah akrab, seperti antar anggota keluarga, atau teman karib. Ragam ini menggunakan bahasa yang tidak lengkap dengan artikulasi yang tidak jelas.
4. Variasi dari Segi Sarana
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Dalam hal ini dapat disebut adanya ragam lisan dan tulis atau juga ragam dalam berbahasa dengan menggunakan sarana atau alat tertentu, misalnya bertelepon atau bertelegraf.





BAHASA GAUL ‘SLANG’ INDONESIA
Oleh Suntea

Bahasa gaul atau biasa disebut dengan slang (bahasa prokem) merupakan ragam bahasa tidak resmi, tidak baku dan  bersifat musiman. Akar dari bahasa gaul adalah bahasa prokem. Bahasa prokem merupakan bahasa preman. Preman biasanya memakai bahasa prokem untuk berkomunikasi agar tidak diketahui oleh orang lain yang bukan  komunitas preman tersebut. Dewasa ini, bahasa prokem tidak lagi menjadi bahasa “rahasia” melainkan menjadi bahasa gaul di suatu daerah atau komunitas tertentu. Berikut beberapa bentuk bahasa gaul yang sering ditemukan dalam percakapan sehari-hari;
1.      Word Clipping
Suatu kata dipendekkan atau dipotong tanpa mengubah maknanya (misal: mike – microphone).
2.      Onomatopoeia
Peniruan suara (misal: bang, boom, kukuruyuk).
3.      Saying word from behind (malang’s prokem language)
Mengucapkan kata dengan membalikkan kata dari belakang ke depan (misal: ngalam – malang, uka – aku).
4.      Menambahkan ‘F’ atau ‘S’ pada setiap suku kata (misal: afakufu mafaufu mafandifi – aku mau mandi)
5.      Bahasa gaul selebritis (misal: sutralah – sudahlah, gue – aku, macan tutul – macet total, so what gitu lhoh)
6.      Bahasa gaul kaum waria (misal: akika atau ike – aku, HIV – Hasrat Ingin Pipis, gaswat – gawat, makarena – makan)

Bagaimana dengan  munculnya slang (bahasa gaul/bahasa prokem) di  kalangan masyarakat khususnya remaja?
Remaja menggunakan bahasa slang untuk kepentingan komunitas mereka. Alasan penggunaan bahasa slang adalah; agar komunikasi yang terjalin tidak monoton, menambah selera humor, digunakan untuk mengolok-olok dan menyindir seseorang, sebagai identitas suatu komunitas yang membedakan dengan komunitas lain, mendekatkan hubungan antar individu dalam komunitas sehingga komunikasi menjadi akrab, mudah dan nyaman.
Beberapa alasan yang dikemukakan di atas memberikan sesuatu yang positif. Jadi tidak ada salahnya jika bahasa slang berkembang di kalangan masyarakat khususnya remaja.

Apakah slang akan “mengganggu” eksistensi bahasa Indonesia dan bahasa Daerah sebagai bahasa ilmu/ modern?
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa daerah sebagai  lambang identitas/ kebanggaan suatu daerah merupakan bahasa dominan yang keberadaannya sangat diperhatikan dan senantiasa terjaga, dalam artian bersifat klasik dan berlaku sepanjang masa. Berbeda dengan slang yang ‘hidup’ musiman. Slang sering kali berubah mengikuti perkembangan zaman dan sering pula menghasilkan kata-kata baru. Oleh karena itu, slang tidak akan mengganggu eksistensi bahasa Indonesia maupun bahasa daerah, sebab slang sendiri dirancang dan dihasilkan dari bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Jadi, hal ini senantiasa akan berkembang.

Apakah demi pengembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa ilmu/ modern, keberadaan slang harus disingkirkan?
Bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu/modern tidak akan terganggu dengan adanya slang, karena slang berbeda dengan bahasa Indonesia. Sebagai bahasa ilmu, bahasa Indonesia selalu mendapat tempat tertinggi di kalangan bahasa manapun (dalam lingkup Indonesia) karena bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar komunikasi yang setiap saat digunakan.

Apa yang perlu ditangani dalam situasi keanekaragaman bahasa seperti itu?
Bahasa merupakan alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk berkomunikasi (secara lisan maupun tulisan), ataupun gerakan (bahasa isyarat yang semuanya bertujuan untuk menyampaikan pesan/ informasi kepada orang lain. Keanekaragaman bahasa di Indonesia menjadi kebanggaan tersendri bagi Indonesia, dan untuk menghubungkan keanekaragaman itulah digunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dari semua bahasa di Indonesia untuk berkomunikasi secara umum. Begitu juga dengan slang yang hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai bahasa komunitas tertentu, akan menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar komunikasi apabila berhubungan dengan komunitas lain.

Kesimpulan
Dalam situasi keanekaragaman seperti ini, bukanlah ancaman untuk bahasa Indonesia akan mengalami penurunan daya tarik. Karena sama halnya dengan bahasa-bahasa lain, bahasa memiliki beberapa fungsi yang terbagi menjadi dua yaitu fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, dan alat untuk mengadakan dan sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi. Jadi kondisi ini tidak perlu penanganan yang serius. Kita hanya perlu menjunjung tinggi bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan baik dan benar, serta mendudukkannya sebagai bahasa nasional, sebagai bahasa yang fundamental di antara bahasa-bahasa yang ada di Indonesia.

Contoh Bahasa Slang Inggris

Can you lend me some cash?
He's a real prat.
Let's chill out.
My shoelace has bust.
Those boots are real cool.
How are the kids.
Penggemar chatting pasti sering menggunakan bahasa prokem/bahasa slang/bahasa gaul, Bahkan SMS pun kadang kita menggunakan bahasa ini. Secara umum bahasa slang bisa diartikan dengan bahasa yang tidak resmi atau tidak baku sifatnya bisa sementara, tapi tidak selalu. Bahasa ini bisa diartikan juga dengan bahasa gaul biasanya merupakan singkatan. Beberapa istilah berikut adalah istilah yang juga digunakan dalam dunia Perdomainan seperti BIN, SOLD, regfee dll.
AAMOF – As A Matter Of Fact = Faktanya
ATM – At The Moment =Saat ini
AFK – Away From Keyboard =Tidak berada di depan kompi
BIN – Buy It Now =Beli sekarang juga
BOT – Back On Topic = Kembali ke pokok masalah
BRB – Be Right Back =Aku segera kembali
BTW – By The Way = Monk-ngomonks
DND – Do Not Disturb = Jangan ganggu (banci..he..he)
FS – For Sale = Untuk Jual
FYI – For Your Information =Cuma Sekedar info
HTH – Hope That Helps =Semoga membantu
IDK – I Don’t Know = Wah Gak tahu
IIRC – If I Recall Correctly = jika saya benar menghubungi
IMHO – In My Humble Opinion =Cuma opini saya
IMO – In My Opinion = Idem x ya kyk di atas
IOW – In Other Words = Dengan kata lain
IRL – In Real Life = Dalam kehidupan sebenarnya
JK – Just Kidding = Bercanda kok
LM(F)AO – Laughing My (F*CENCORED) Ass Off = (Waduh gak bisa diartiin NI!!)
LMK – Let Me Know = Beri tahu saya
LOL – Laugh Out Loud = Tertawa terbahak-bahak
OBO – Or Best Offer = Atau penawaran terbaik
ONO – Or Near Offer = Atau penawaran yang paling mendekati (Wajar)
OP – Original Poster = Artikel asli oleh
OTOH – On The Other Hand = Di tangan lain (Phrasa untuk jika orang..)
PM ME – Private Message Me =kirim pesan pribadi untuk saya
PPL – People = orang
REG – Regular/Register =Daftar/registrasi
REP ADDED – Reputation Added – More Info = Reputasi anda Saya tambah
REGFEE – Registration Fee = Biaya untuk registrasi
RL – Real Life =Kehidupan nyata
SIG – Signature =Tanda tangan
SOLD= Saya beli!! (Istilah pada jual beli domain yang di buka untuk umum-Bin digunakan)
STW – Search The Web = Cari di internet
THX – Thanks = makasi
TLD – Top Level Domain = Domain tingkat atas (maksudnya domain yg berektensikan .com,.net,.org,)
TM – Trade Mark (merk dagang)
WB – Welcome Back =Selamat datang lagi
WTB – Want To Buy =mau beli
WTG – Way To Go =mau pergi
YW – Your Welcome = sama-sama(thanx)
1)Ace Melakukan sesuatu dengan sangat baik (K.Kerja), Urutan pertama (K.Sifat) Seorang ahli (K.benda)
2) Airhead Orang bodoh
3) All ears Mendengarkan dengan seksama
4) Ants in your pants Grogi
5) At the end of your rope Terjebak dalam situasi yang buruk
6) Average Joe Orang yang mirip dengan orang lain
7) Axe Memecat
8) Back burner Bukan masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu
9) Back on your feet Baru sembuh
10) Back seat driver Orang yang memberikan saran yang buruk.
11) Back to the drawing board Mulai lagi
12) Bad egg Pembuat onar
13) Bad mouth Mengatakan hal yang buruk tentang orang lain atau sesuatu
14) Ballpark figure Menebak dengan baik
15) Barking up the wrong tree Mencari sesuatu di tempat yang salah
16) Basket case Gila
17) Behind bars Di dalam penjara
18) Big house Penjara, khususnya dengan pengawalan yang ketat
19) Blow chunks Muntah atau sakit
20) Blow it Menghilangkan atau membuang-buang sesuatu
21) b.o Bau badan
22) Boozehound Orang yang banyak minum
23) Bounce Berangkat
24) Brewski Bir
25) Bump off Membunuh
26) Burnt out Capek sekali
27) Bust digits Mendapatkan nomor telepon seseorang
28) Butts Rokok, puntung rokok
29) Buy the farm Mati
30) A chick Perempuan muda yang cantik (cewek)
31) Chicken Pengecut
32) Chow Makan, makanan
33) Cold feet Takut
34) Couch potato Orang yang duduk di depan TV seharian
35) Crash Berhenti berfungsi
36) Creep Orang yang suka mengganggu
37) Croak Mati
38) Cut a deal Membuat perjanjian
39) Cut and dry Sesuatu yang sudah jelas dan sudah dimengerti
40) Da bomb Bagus sekali
41) Dinosaur Sangat tua
42) Dicey Berbahaya, beresiko
43) Ditch Meninggalkan orang, tempat atau sesuatu yang tidak diinginkan
44) Doa Sesuatu yang tidak bisa
45) diperbaiki lagi (situasi)
46) Downer Sesuatu atau seseorang yang
47) sedang depresi. Sesuatu yang
48) membuat seseorang sedih
49) Dry run Masa latihan
50) Early bird Orang yang bagun pagi dan langsung pergi kerja
51) Eat lead Orang yang ditembak dengan senjata
52) Eats Makanan ringan
53) Egghead Orang pandai
54) Fast food Makanan siap saji
55) Fat cat Orang yang kaya raya
56) Fore! Awas!
57) Freak Orang asing
58) Gibberish Pidato tak bermakna
59) Go bananas Hilang kendali
60) Go off deep end Melakukan susuatu yang gila
61) Goat Seseorang yang selalu
62) dikambinghitamkan
63) Grub Makanan
64) Gumshoe Detektif
65) Guts Keberanian
66) Hangout Melewatkan waktu tanpa
67) melakukan apapun
68) Have a screw loose Sedikit gila
69) Haywire Rusak, tidak bekerja
70) Head doctor Psikiatris
71) High five (Sama dengan) Bravo!
72) High roller Orang yang menghabiskan
73) banyak uang untuk berjudi
74) Hillbilly Orang udik
75) Hit the road Meninggalkan rumah
76) Hit the spot Bagus sekali!
77) Hog Makan atau mengambil apapun
78) Hole in the wall Restoran atau toko yang kecil dan sederhana
79) Hoodlum Gangster
80) Hooked Kecanduan
81) Hootie Perempuan cantik
82) Hung up on Terobsesi dengan seseorang/sesuatu
83) Hush hush Sssst!
84) Idiot box TV Iffy Meragukan
85) In a bind Dalam masalah
86) In a funk Depresi
87) In someone’ s hair Mengganggu orang terus
88) In the doghouse Dalam masalah
89) In the slammer Dalam penjara
90) Jane Doe Perempuan yang tidak diketahui
91) Jerk Orang yang tidak disukai
92) Jock Atlit laki-laki
93) Jump ship Meninggalkan pekerjaan yang sekarang
94) Jumpy Takut kalau-kalau sesuatu yan buruk akan terjadi
95) Junk Food Jajanan
96) Knocked-up Bunting (negative sense)
97) Know-it-all Orang sok tahu
98) Kooky Gila, tidak waras
99) La la land Tempat yang luar biasa
100) Low life Orang yang berperangai buruk
101) Luck of the draw Tergantung takdir
102) Mosey along Jalan pelan-pelan
103) Mug Wajah
104) Nailed Menjumpai seseorang yang sedang berbuat tidak benar
105) Narc Informan polisi
106) Not my cup of tea Sesuatu yang tidak kita sukai
107) On cloud nine Gembira sekali
108) One foot in the grave Sekarat
109) Out like a light Cepat sekali tidurnya
110) Pass out Tertidur karena kecapean atau mabuk
111) Peace out Selamat tinggal (gaya yang ramah)
112) People person Orang yang suka bergaul
113) Phat Bagus sekali
114) Pig out Makan banyak sekali
115) Pipe down Diam!
116) Pitch in Menolong
117) Quick buck Uang yang diperoleh dalam waktu yang sangat singkat
118) Raise the roof Bersenang-senang dan membuat keributan
119) Rookie Pemula
120) Rug rat Anak kecil
121) Run a fever Sakit tiba-tiba (panas)
122) Sad Kualitas rendah
123) Screw up Membuat kesalahan besar
124) See ya, Selamat tinggal!
125) Space cadet Orang yang ceroboh
126) Square Orang yang membosankan
127) Stool pigeon Informan Street pizza Binatang yang terlindas kendaraan
128) Tag along Orang yang ikut diajak berkeliling-keliling
129) Test the water Berpikir dahulu sebelum bertindak
130) Too hot to handle Sulit, controversial
131) Tripping Di bawah pengaruh obat-obatan
132) Uncle Sam Amerika Serikat
133) Up your sleeves Keuntungan tersirat
134) Veg out Bersantai-santai
135) Welch Tidak sanggup bayar hutang
136) Wimp Orang yang lemah
137) Wuss Pengecut
138) Yap Berbicara ngawur
139) Yawner Sesuatu yang membosankan
140) Yellow Penakut
141) Zillionaire Orang kaya raya
142) Zone out Hilang konsentrasi


























BILINGUALISME
1. PENGERTIAN KEDWIBAHASAAN
Menurut para pakar kedwibahasaan didefinisikan sebagai berikut:
a. Robert Lado (1964-214)
Kedwibahasaan merupakan kemampuan berbicara dua bahasa dengan sama atau hampir sama baiknya. Secara teknis pendapat ini mengacu pada pengetahuan dua bahasa, bagaimana tingkatnya, oleh seseorang.
b. MacKey (1956:155)
Kedwibahasaan adalah pemakaian yang bergantian dari dua bahasa.
c. Hartman dan Stork (1972:27)
Kedwibahasaan adalah pemakain dua bahasa oleh seorang penutur atau masyarakat ujaran.
d. Bloomfield (1958:56)
Kedwibahasaan merupakan kemamouan untuk menggunakan dua bahasa yang sama baiknya oleh seorang penutur.
e. Haugen (1968:10)
Kedwibahasaan adalah tahu dua bahasa.
Jika diuraikan secara lebih umum maka maka pengertian kedwibahasaan adalah pemakaian dua bahasa secara bergantian baik secara produktif maupun reseftif oleh seorang individu atau oleh masyarakat. 
2. TIPOLOGI KEDWIBAHASAAN
a. Menurut Weinreich (1953) tipologi kedwibahasaan didasarkan pada derajat atau tingkat penguasaan seorang terhadap ketrampilan berbahasa. Maka Weinreich membagi kedwibahasaan menjadi tiga yaitu:
  • Kedwibahasaan Majemuk (compound bilingualism)
Kedwibahasaan majemuk adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa salah satu bahasa lebih baik daripada kemampuan berbahasa bahasa yang lain.
  • Kedwibahasaan Koordinatif / sejajar.
Kedwibahasaan koordinatif/sejajar adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa pemakaian dua bahasa sama-sama baik oleh seorang individu.
  • Kedwibahasaan Sub-ordinatif (kompleks)
Kedwibahasaan sub-ordinatif (kompleks) adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa seorang individu pada saat memakai B1 sering memasukkan B2 atau sebaliknya.
 b. Baeten Beardsmore (1985:22) menambahkankan satu derajat lagi yaitu kedwibahasaan awal (inception bilingualism) yaitu kedwibahasan yang dimemiliki oleh seorang individu yang sedang dalam proses menguasai B2.
 c. Menurut Pohl (dalam baetens Beardmore, 1985;5) tipologi bahasa lebih didasarkan pada status bahasa yang ada didalam masyarakat, maka Pohl membagi kedwibahasaan menjadi tiga tipe yaitu:
  • Kedwibahasaan Horisontal (horizontal bilingualism)
Merupakan situasi pemakaian dua bahasa yang berbeda tetapi masing-masing bahasa memiliki status yang sejajar baik dalam situasi resmi, kebudayaanmaupun dalam kehidupan keluarga dari kelompok pemakainya.
 
  • Kedwibahasaan Vertikal (vertical bilinguism)
Merupakan pemakaian dua bahasa apabila bahasa baku dan dialek, baik yang berhubungan ataupun terpisah, dimiliki oleh seorang penutur. 
  • Kedwibahasaan Diagonal (diagonal bilingualism)
Merupakan pemakaian dua bahasa dialek atau atau tidak baku secara bersama-sama tetapi keduanya tidak memiliki hubungan secara genetik dengan bahasa baku yang dipakai oleh masyarakat itu.
d. Menurut Arsenan (dalam Baerdsmore, 1985) tipe kedwibahasaan pada kemampuan berbahasa, maka ia mengklasifikasikan kedwibahasaan menjadi dua yaitu:
  • Kedwibahasaan produktif (productive bilingualism) atau kedwibahasaan aktif atau kedwibahasaan simetrik (symmetrical bilingualism) yaitu pemakaian dua bahasa oleh seorang individu tyerhadap seluruh aspek keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis)
  • Kedwibahasaan reseptif (reseptive bilingualism) atau kedwibahasaan pasif atau kedwibahasaan asimetrik (asymetrical bilingualism)
 3. DIAGLOSIA DALAM KEDWIBAHASAN
Diaglosia adalah situasi dimana dau dialek atau lebih biasa dipakai.(Charles Fergison 1959:136). Diaglosia adalah suatu situasi bahasa yang relatif stabil dimana, selain dari dialek-dialek utama satu bahasa(yang memungkinkan mencakup satu bahasa baku atau bahasa-bahasa baku regional), ada ragam bahasa yang sangat berbeda, sangat terkondifikasikan dan lebih tinggi, sebagai wacana dalam kesaeluruhan kesusastraan tertulis yang luas dan dihormati, baik pada kurun waktu terdahulu maupun masyarakat ujaran lain, yang banyak dipelajari lewat pendidikan formal dan banyak dipergunakan dalam tujuan-tujuan tertulis dan ujaran resmi, tapi tidak dipakai oleh bagian masyarakat apa pun dalam pembicaraan-pembicaraan biasa.(Hudson 1980:54). Diaglosia adalah hadirnya dua bahasa baku dalam satu bahasa, bahasa tinggi dipakai dalam suasana-suasana resmi dan dalam wacana-wacana tertulis, dan bahasa rendah dipakai untuk percakapan sehari-hari.(Hartmann & Strork 1972:67). Diaglosia adalah persoalan antara dua dialek dari satu bangsa, bukan antara dua bahasa. Kedua ragam bahasa ini pada umumnya adalah bahasa baku (standard language) dan dialek derah regional daerah (regional dialect).
 
4. PARAMETER/PENGUKURAN DIAGLOSIA
Mackey (1956) mengemukakan bahwa pengukuran kedwibahasaan dapat dilakukan melalui beberapa aspek, yaitu;
a. Aspek tingkat.
Dapat dilakukan dengan mengamati kemampuan memakai unsur-unsur bahasa, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, leksikon serta ragam bahasa.
b. Aspek fungsi
Dapat dilakukan melalui kemampian pemakaian dua bahsa yang dimiliki sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Ada dua faktor yang harus diperhatikan dalam pengukuran kedwibahasaan yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang menyangkut pemakaian bahasa secara internal. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar bahasa. Hal ini antara lain menyangkut masalah kontak bahasa yang berkaitan dengan lamanya waktu kontak seringnya mengadakan kontak bahasa si penutur dapat ditentukan oleh lamanya waktu kontak, seringnya kontak dan penekannya terhadap bidang-bidang tertentu. Misalnya, bidang ekonomi, budaya, politik,dll.
c. Aspek pergantian
Yaitu pengukuran terhadap seberapa jauh pemakai bahasa mampu berganti dari satu bahasa kebahasa yang lain. Kemampuan berganti dari satu bahasa ke bahasa yang lain ini tergantung pada tingkat kelancarn pemakaian masing-masing bahasa.
d. Aspek interferensi
Yaitu pengukuran terhadap kesalahan berbahasa yang disebabkan oleh terbawanya kebiasaan ujaran berbahasa atau dialek bahasa pertama terhadap kegiatan berbahasa
Robert Lado (1961) mengemukakan agar dalam pengukuran kedwibahasaan seseorang dilakukan melalui kemampuan berbahasa dengan menggunakan indikator tataran kebahasaan (sejalan dengan Mackey)
Kelly (1969) menyarankan agar kedwibahasaan seseorang diukur dengan cara mendeskripsikan kemampuan berbahas seseorang dari masing-masing bahasa dengan menggunakan indikator elemen kebahasaan kemudian dikorelasikan untuk menentukan keterampilan berbahasa.
John MacNawara (1969) memberikan disain teknik pengukuran kedwibahasaan dari aspek tingkat dengan cara memberikan res kemampuan berbahasa dengan menggunakan konsep dasar analisis kesalahan berbahasa. Pengukuran dapat memakai indikator membaca pemahaman, membaca leksikon, kesalahan ucapan, kesalahan ketatabahasaan, interferensileksikal B2, pemahaman bahasa lisan, kesalahan fonetis, makna kata dan kekayaan makna.
Berbeda dengan pendapat-pendapat diatas yaitu Jakobovits (1970) memberikan desain teknik pengukuran kedwibahasaan dengan cara:
1. menghitung jumlah tanggapan terhadap rangsangan dalam B1
2. menghitung jumlah tanggapan dalam rangsangan dalam B2 terhadap B1.
3. menghitung perbedaan total antara B1 dan B2.
4. menghitung jumlah tanggapan dalam B1 terhadap rangsangan dalam B1
5. menghitung jumlah tanggapan dalam B2 terhadap rangsangan dalm B2.
6. menghitung tanggapan dalam B2 terhadap rangsangan dalam B1.
7. menghitung jumlah tanggapan dalam B1 terhadap rangsangan dalam B2.
8. menghitung tanggapan terjemahan terhadap rangsangan dalam B2.
9. menyatakan hasil dalam bentuk prosentase, dan
10. menghitung tanggapan dua bahasa terhadap rangsangan B1 dan B2 jika memungkinkan.
Lambert (19550 mengajukan teknik pengukuran kedwibahasaan dengan dengan mengungkapkan dominasi bahasa, artinya bahasa mana dari dari kedua bahasa itu dominan Mackey (1968) memberikan teknik pengukuran kedwibahasaan dengan menggunakan tes ketrampilan berbahasa masing-masing bahasa.
 

Istilah bilingualisme (Inggris: bilingualism) dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud bilingualisme itu, yakni berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Dalam perspektif sosiolinguistik, bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalalm pergaulannya dengan orang lain secara bergantian. Untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama adalah bahasa ibu atau bahasa pertamanya (disingkat B1) dan yang kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (disingkat B2).
Orang yang bisa menggunakan kedua bahasa itu disebut orang yang bilingual –dalam bahasa Indonesia disebut dwibahasawan. Sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut bilingualitas—dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan.
Bilingualisme dan Bilingualitas.
Jika kita perhatikan hubungan logika antara bilingualisme dan bilingualitas, maka akan dapat dimengerti bahwa tidak semua yang memiliki “bilingulitas” akan mempraktikkan “bilingualisme” dalam kehidupan sehari-harinya, sebab hal ini tergantung pada situasi kebahasaan di lingkungannya. Namun, dapat pula kita pahami bahwa seseorang tidak akan dapat mempraktikkan “bilingualisme” tanpa memiliki “bilingualitas”. Singkatnya, bilingualisme brimplikasi pada bilingualitas.
Pembagian Kedwibahasaan
Menurut Chaer dan Agustina (2004:170) ada beberapa jenis pembagian kedwibahasaan berdasarkan tipologi kedwibahasaan, yaitu sebagai berikut.
1. Kedwibahasaan Majemuk (Compound Bilingualism)
Kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa salah satu bahasa lebih baik dari pada kemampuan berbahasa bahasa yang lain. Kedwibahasaan ini didasarkan pada kaitan antara B1 dengan B2 yang dikuasai oleh dwibahasawan. Kedua bahasa dikuasai oleh dwibahasawan tetapi berdiri sendiri-sendiri.
2. Kedwibahasaan Koordinatif/Sejajar
Kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa pemakaian dua bahasa sama-sama baik oleh seorang individu. Kedwibahasaan seimbang dikaitkan dengan taraf penguasaan B1 dan B2. Orang yang sama mahirnya dalam dua bahasa.
3. Kedwibahasaan Subordinatif (Kompleks)
Kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa seorang individu pada saat memakai B1 sering memasukkan B2 atau sebaliknya. Kedwibahasaan ini dihubungkan dengan situasi yang dihadapi B1, adalah sekelompok kecil yang dikelilingi dan didominasi oleh masyarakat suatu bahasa yang besar sehinga masyarakat kecil ini dimungkinkan dapat kehilangan B1-nya.
Ada beberapa pendapat lain oleh pakar kedwibahasaan dalam tipologi kedwibahasaan di antaranya adalah (Paul, 2004:235).
4. Baeten Beardsmore
Menambahkankan satu derajat lagi yaitu kedwibahasaan awal (inception bilingualism) yaitu kedwibahasan yang dimemiliki oleh seorang individu yang sedang dalam proses menguasai B2.
5. Pohl
Tipologi bahasa lebih didasarkan pada status bahasa yang ada didalam masyarakat, maka Pohl membagi kedwibahasaan menjadi tiga tipe yaitu sebagai berikut.
a. Kedwibahasaan Horizontal (Horizontal Bilingualism)
Merupakan situasi pemakaian dua bahasa yang berbeda tetapi masing-masing bahasa memiliki status yang sejajar baik dalam situasi resmi, kebudayaan maupun dalam kehidupan keluarga dari kelompok pemakainya.
b. Kedwibahasaan Vertikal (Vertical Bilinguism)
Merupakan pemakaian dua bahasa apabila bahasa baku dan dialek, baik yang berhubungan ataupun terpisah, dimiliki oleh seorang penutur.
c. Kedwibahasaan Diagonal (Diagonal Bilingualism)
Merupakan pemakaian dua bahasa dialek atau tidak baku secara bersama-sama tetapi keduanya tidak memiliki hubungan secara genetik dengan bahasa baku yang dipakai oleh masyarakat itu.
Menurut Arsenan tipe kedwibahasaan pada kemampuan berbahasa, maka ia mengklasifikasikan kedwibahasaan menjadi dua yaitu:
1)        Kedwibahasaan produktif (produktif bilingualisme) atau kedwibahasaan aktif atau kedwibahasaan simetrik (symmetrical bilingualisme) yaitu pemakaian dua bahasa oleh seorang individu terhadap seluruh aspek keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis).
2) Kedwibahasaan reseptif (reseptive bilingualisme) atau kedwibahasaan pasif atau kedwibahasaan asimetrik (asymetrical bilingualism).











ALIH KODE DAN CAMPUR KODE
  • Pengertian Kode
Istilah kode dipakai untuk menyebut salah satu varian di dalam hierarki kebahasaan, sehingga selain kode yang mengacu kepada bahasa (seperti bahasa Inggris, Belanda, Jepang, Indonesia), juga mengacu kepada variasi bahasa, seperti varian regional (bahasa Jawa dialek Banyuwas, Jogja-Solo, Surabaya), juga varian kelas sosial disebut dialek sosial atau sosiolek (bahasa Jawa halus dan kasar), varian ragam dan gaya dirangkum dalam laras bahasa (gaya sopan, gaya hormat, atau gaya santai), dan varian kegunaan atau register (bahasa pidato, bahasa doa, dan bahasa lawak). Kenyataan seperti di atas menunjukkan bahwa hierarki kebahasaan dimulai dari bahasa/language pada level paling atas disusul dengan kode yang terdiri atas varian, ragam, gaya, dan register.
  • Alih Kode
Alih kode (code switching) adalah peristiwa peralihan dari satu kode ke kode yang lain. Misalnya penutur menggunakan bahasa Indonesia beralih menggunakan bahasa Jawa. Alih kode merupakan salah satu aspek ketergantungan bahasa (languagedependency) dalam masyarakat multilingual. Dalam masyarakat multilingual sangat sulit seorang penutur mutlak hanya menggunakan satu bahasa. Dalam alih kode masing-masing bahasa masih cenderung mengdukung fungsi masing-masing dan dan masing-masing fungsi sesuai dengan konteksnya. Appel memberikan batasan alih kode sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena perubahan situasi. Suwito (1985) membagi alih kode menjadi dua, yaitu:
1. Alih kode ekstern
Bila alih bahasa, seperti dari bahasa Indonesia beralih ke bahasa Inggris atau sebaliknya.
2. Alih kode intern
Bila alih kode berupa alih varian, seperti dari bahasa Jawa ngoko merubah ke krama.

Beberapa faktor yang menyebabkan alih kode adalah:
1. Penutur
Seorang penutur kadang dengan sengaja beralih kode terhadap mitra tutur karena suatu tujuan. Misalnya mengubah situasi dari resmi menjadi tidak resmi atau sebaliknya.
2. Mitra Tutur
Mitra tutur yang latar belakang kebahasaannya sama dengan penutur biasanya beralih kode dalam wujud alih varian dan bila mitra tutur berlatar belakang kebahasaan berbeda cenderung alih kode berupa alih bahasa.
3. Hadirnya Penutur Ketiga
Untuk menetralisasi situasi dan menghormati kehadiran mitra tutur ketiga, biasanya penutur dan mitra tutur beralih kode, apalagi bila latar belakang kebahasaan mereka berbeda.
4. Pokok Pembicaraan
Pokok Pembicaraan atau topik merupakan faktor yang dominan dalam menentukan terjadinya alih kode. Pokok pembicaraan yang bersifat formal biasanya diungkapkan dengan ragam baku, dengan gaya netral dan serius dan pokok pembicaraan yang bersifat informal disampaikan dengan bahasa takbaku, gaya sedikit emosional, dan serba seenaknya.
5. Untuk membangkitkan rasa humor
Biasanya dilakukan dengan alih varian, alih ragam, atau alih gaya bicara.
6. Untuk sekadar bergengsi
Walaupun faktor situasi, lawan bicara, topik, dan faktor sosio-situasional tidak mengharapkan adanya alih kode, terjadi alih kode, sehingga tampak adanya pemaksaan, tidak wajar, dan cenderung tidak komunikatif.

Contoh-Contoh Kasus Alih Kode

Alih Kode adalah peristiwa berubahnya penggunaan bahasa dari ragam santai menjadi ragam resmi, atau juga ragam resmi keragam santai. Contoh kasus ini adalah sebagai berikut:
  1. Latar Belakang : Kebun jarak di Padang Kemiling
Para Pembicara : Pak Amat dan Pak Jalil selaku buruh jarak, serta pak widianto selaku pengawas.
Topik : Pupuk yang habis.
Sebab alih kode : Munculnya Pak Widianto
Peristiwa tutur :
Pak Amat : Cakmano kito ni ndak mupuk kalu pupuk ajo dak ado lagi
Pak Jalil : tuna bos datang, biar ambo tanyo kek bos dulu. Pak Widianto, pupuk di gudang sudah habis. Jadi bagaimana pak?
  1. Latar Belakang : Pasar Panorama di kawasan penjual daging.
Para pembicara : Buk soleha dan Buk Ani selaku pedagang, serta Buk Jaka selaku pembeli.
Topik : Daging bangkai yang beredar di pasaran.
Sebab alih kode : Munculnya Ibu Jaka.
Peristiwa tutur :
Ibu Soleha : Ambo kuatir pembeli kito ilang kiniko. Banyak orang odak cayo kek daging yang dijual.
Ibu Ani : ambo jugo, tapi ndak cakmano lagi. Idak makan kalu idak jualan dagingko.
Ibu Jaka : Dagingnya berapa bu? Masih segar kan?
Ibu Ani : Rp. 7000 satu kilo bu. Segar bu, saya jamin.
  1. Latar Belakang :Terminal Betungan
Para pembicara : Pak Mamat dan Pak Slamet.
Topik : Pajak terminal
Sebab alih kode : Pak Slamet memungut uang pajak.
Peristiwa tutur :
Pak slamet : Cakmano jualannyo laku dak?
Pak Mamat : Yo caikolah pak. Pacak ditengok dewek. Oh ya bisa ditunda dulu pajaknya pak?
Pak Slamet : Yah tidak bisa pak. Saya juga harus menyetor ke atas.

  • Campur Kode

Campur kode (code-mixing) terjadi apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya. Hal ini biasanya berhubungan dengan karakteristk penutur, seperti latar belakang sosil, tingkat pendidikan, rasa keagamaan. Biasanya ciri menonjolnya berupa kesantaian atau situasi informal. Namun bisa terjadi karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa tersebut tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan menggunakan bahasa lain, walaupun hanya mendukung satu fungsi. Campur kode termasuk juga konvergense kebahasaan (linguistic convergence).
Campur kode dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Campur kode ke dalam (innercode-mixing): Campur kode yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasinya
2. Campur kode ke luar (outer code-mixing): campur kode yang berasal dari bahasa asing.

Latar belakang terjadinya campur kode dapat digolongkan menjadi dua, yaitu
1. sikap (attitudinal type)
Latar belakang sikap penutur
2. kebahasaan(linguistik type)
Latar belakang keterbatasan bahasa, sehingga ada alasan identifikasi peranan, identifikasi ragam, dan keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan.
Dengan demikian campur kode terjadi karena adanya hubungan timbal balik antaraperanan penutur, bentuk bahasa, dan fungsi bahasa.
Beberapa wujud campur kode:
1. penyisipan kata,
2. menyisipan frasa,
3. penyisipan klausa,
4. penyisipan ungkapan atau idiom, dan
5. penyisipan bentuk baster (gabungan pembentukan asli dan asing).

Contoh-Contoh Kasus Campur Kode

Campur Kode terjadi jika seseorang menggunakan sebagian kecil unit (kata atau frase pendek) dari satu bahasa ke bahasa lain, seringkali dilakukan tanpa tujuan dan biasanya dalam tingkat kata (Paul Ohoiwutun, 2002:69).

  1. Latar belakang : di bagian TU SMA N 03 Bengkulu
Para pembicara : Pak Jalil dan Pak Rahmat
Topik : Uang SPP
Peristiwa Tutur :
Pak Jalil : Bulan ini banyak siswa yang belum bayar uang SPP. Cak ndak dikasari bae.
Pak Rahmat : Jangan pulo cak itu pak. Siapa tau mereka masih berhalangan untuk membayar.
  1. Latar Belakang : Terminal Panorama
Para pembicara : Pak Ander dan Pak Dito
Topik : Harga BBM naik
Peristiwa tutur :
Pak Ander : Kalau seandainya harga BBM terus naik, bisa rugi kita pak. Wong ate die galak mikir nasib kite.
Pak Dito : Amen pisak, nangku piti di jalan. Cam pemulung tu. Pemerintah sulit diandalkan.
  1. Latar Belakang : Puskesmas
Para pembicara : dokter dan pasien
Topik : penyakit
Peristiwa tutur :
Dokter : Sakit apa bu leha?
Pasien : panas dingin bu dokter. palak ambo ko rasonyo pening nian.
Dokter : tula kalu sering bepane.

  • Persamaan dan Perbedaan Alih Kode dan Campur Kode
Persamaan alih kode dan campur kode adalah kedua peristiwa ini lazin terjadi dalam masyarakat multilingual dalam menggunakan dua bahasa atau lebih. Namun terdapat perbedaan yang cukup nyata, yaitu alih kode terjadi dengan masing-masing bahasa yang digunakan masih memiliki otonomi masing-masing, dilakukan dengan sadar, dan disengaja, karena sebab-sebab tertentu sedangkan campur kode adalah sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan memiliki fungsi dan otonomi, sedangkan kode yang lain yang terlibat dalam penggunaan bahasa tersebut hanyalah berupa serpihan (pieces) saja, tanpa fungsi dan otonomi sebagai sebuah kode. Unsur bahasa lain hanya disisipkan pada kode utama atau kode dasar. Sebagai contoh penutur menggunakan bahasa dalam peristiwa tutur menyisipkan unsur bahasa Jawa, sehingga tercipta bahasa Indonesia kejawa-jawaan.
Thelander mebedakan alih kode dan campur kode dengan apabila dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain disebut sebagai alih kode. Tetapi apabila dalam suatu periswa tutur klausa atau frasa yang digunakan terdiri atas kalusa atau frasa campuran (hybrid cluases/hybrid phrases) dan masing-masing klausa atau frasa itu tidak lagi mendukung fungsinya sendiri disebut sebagai campur kode.




DAFTAR PUSTAKA
Pranowo.1996. Analisis pengajaran bahasa untuk mahasiswa jurusan bahasa dan guru bahasa.Yogyakarta: Gadjah Mada University
 Alwasilah, A.Chaedar. 1985. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.




You May Also Like

0 komentar

GOODREADS

Vicantika (Nurlovi Lestari)'s books on Goodreads
Online Wedding Online Wedding
reviews: 7
ratings: 38 (avg rating 2.95)

Bride Wars Bride Wars
reviews: 2
ratings: 27 (avg rating 3.63)