Mewujudkan Impian
Cerpen: Nurlovi Lestari

    Cuaca pagi ini dingin. Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 04.30 wib. Di luar rumahku sudah terdengar suara-suara orang lewat. Padahal matahari saja masih enggan menampakkan sinar kuning keemasannya. Penduduk di daerahku kebanyakan bekerja sebagai buruh ataupun penyadap karet, karena itu mereka sudah mulai mencari nafkah pagi-pagi.
Namaku Lovi. Usiaku 20 tahun. Aku mahasiswi semester 6 sebuah perguruan tinggi swasta di Jogja. Ini adalah hari pertamaku di rumah. Aku sedang menghabiskan masa liburan semesterku. Rumahku berada di daerah pegunungan yang cukup dingin, perbatasan antara Belitung Barat dan Belitung Timur. Tepatnya Bentaian.
“Dek, ayo bangun, sholat subuh dulu.” Terdengar suara ibuku di kamar sebelah
“Iye, suat agik.” Itu pasti suara Adikku.
Aku segera beranjak dari tempat tidur, mengambil wudhlu, dan menunaikan sholat subuh. Seperti biasa, Adikku akan segera bersiap-siap berangkat ke sekolah. Jarak rumah kami ke SMA-nya kurang lebih 34 km. Jauh memang, tapi Adikku tetap semangat.

    Adikku sudah berangkat ke sekolah menggunakan motor, di daerah ini memang jarang ada kendaraan umum lewat. Kalaupun ada hanya cukup untuk mengangkut ibu-ibu yang akan berbelanja di pasar. Aku sempat mengeluh pada orangtuaku saat memutuskan pindah ke daerah ini. Jauh dari keramaian dan belum ada fasilitas-fasilitas yang memadai. Sinyal pun susah, kadang aku harus berdiri di tepi jalan hanya untuk mencari sinyal. Belum lagi masyarakatnya yang susah menerima hal baru. Tapi, mau bagaimana lagi, Ayahku pindah tugas di daerah ini sehingga kami sekeluarga harus ikut.
Kubuka pintu depan rumahku. Hanya sedikit anak-anak yang pergi bersekolah. Sisanya pasti bekerja. Anak seusiaku yang kuliah pun bisa dihitung dengan jari. Bukan karena orangtua mereka tidak mampu, tapi karena para orangtua disini tidak terlalu menganggap pendidikan penting. Aku merupakan salah satu anak yang beruntung karena orangtuaku sangat menomorsatukan pendiikan.
“Her, mau kemana?” terdengar suara Ibuku dari dalam rumah. Kulihat diluar ada seorang anak kecil kira-kira berusia lima belas tahun lewat di samping rumah kami. Aku pernah melihatnya sekali. Dulu, sewaktu akan berangkat ke Jogja untuk kuliah.
“Mau ke warung Bu.” Anak itu menjawab pertanyaan Ibuku, kemudian pergi.
Aku masuk kembali ke dalam rumah. “Dia tidak sekolah Bu?”
“Sudah setahun ini Her tidak sekolah, semenjak Ibunya meninggal tak ada yang mengurusnya. Kau tau sendiri Ayahnya sibuk bekerja di tambang timah. Kasihan juga melihatnya.” Ibuku berkeluh kesah.
“Bukankah ia anak yang pintar? Katanya ia sering meraih juara 1?”
“Benar, tapi kau tau sendiri bagaimana keluarganya. Sekarang ia hanya membantu mengurus kebun lada milik keluarganya.”
“Ah kasihan sekali dia. Aku turut prihatin dengan keadaannya.”
   
    Hari kedua di rumah. Pulang ke rumah tapi tak kemana mana benar-benar membuatku bosan. Jarak yang jauh juga merupakan alasan mengapa aku malas keluar rumah. Sore itu Ayah Her ke rumah kami. Aku memanggilnya Pak Cik. Seperti biasa, orang yang datang kerumah kami pasti ingin berkonsultasi dengan Ayahku. Padahal Ayahku bukan psikolog.
“Aku ingin menikah lagi.” Pak Cik memulai pembicaraan.
“Menikah dengan siapa?” tanya Ayahku.
“Dengan gadis kampung sebelah.”
“Bagaimana dengan Her? Apakah ia sudah setuju? Pikirkan juga perasaannya.”
 “Maaf Pak Cik, aku ingin bertanya kenapa Her tidak melanjutkan sekolah? Bukankah ia anak yang pintar?” Aku menyela pembicaraan orangtuaku dan Pak Cik.
“Iya benar, tapi kalau Her sekolah tak ada yang mengurus Baim.”
“Pak Cik kan bisa meminta saudara yang lain untuk mengurus Baim, kasihan Her jika tidak sekolah. Mau jadi apa ia kalau sudah besar? Pak Cik mau Her ditindas suaminya nanti kalau sudah menikah?” Nada suaraku mulai meninggi.
“Sudah-sudah. Tak perlu bertengkar, lebih baik kita bicarakan baik-baik persoalan ini.” Lerai Ayahku.
Tak berapa lama Pak Cik pulang dari rumah kami. Entah apa yang dipikirkannya, tapi ketika pamit kulihat keningnya berkerut-kerut. Mungkin saja ia marah dengan perkataanku. Ah biarlah, biar ia sadar kalau anaknya harus diperhatikan. Belum setahun istrinya meninggal malah sudah ingin menikah lagi. Dasar lelaki!
Aku sedang duduk di teras rumah ketika Her lewat di depanku.
“Her, darimana?”
“Dari kebun, kak.”
“Sini duduk dulu.” Aku mengajaknya duduk di kursi teras.
Her kemudian duduk. Aku segera menarik kursi untuk duduk di dekatnya.
“Her dak nak ken sekula agik?” Aku memulai pembicaraan.
“Mual nak Kak, tapi ngasin kan Baim dak ade yang ngurus.” Raut wajahnya mulai keliahatan sedih.
“Her kan bisa bicara dengan Ayah supaya mencari pengasuh untuk Baim.”
“Iya kak, tapi Ayah susah di ajak bicara.” Ujarnya lagi.
“Bagaimana kalau kakak yang mencoba bicara dengan Ayahmu?” Aku bertanya lagi.
“Tapi kak....” Ia hendak mengatakan sesuatu tapi tak jadi.
“Serahkan semua pada kakak. Percayalah padaku.” Aku berusaha meyakinkan Her.
“Baiklah kak, kalau begitu aku pulang dulu ya.” Her beranjak pergi setelah berpamitan.
Aku masuk ke dalam rumah. Sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang. Aku segera mandi dan bersiap-siap sholat berjamaah di masjid. Setelah selesai sholat, aku langsung pulang ke rumah. Ibuku memberitahu bahwa Ayah Her akan menikah dua hari lagi. Kasihan sekali Her. Padahal ia belum mengenal calon Ibu tirinya sama sekali. Aku hanya bisa berharap semoga saja calon Ibu tirinya baik pada Her dan Adiknya.

    Sudah seminggu aku di rumah, tapi belum ada tanda-tanda kalau Her akan melanjutkan sekolah. Ayahnya benar-benar hanya mengurus dirinya sendiri. Padahal dua anaknya sangat membutuhkan perhatian. Besok Ayah Her menikah. Sudah menjadi tradisi bahwa setiap ada hajatan, para tetangga akan membantu memasak makanan untuk hajatan tersebut. Sejak pagi Ibuku sudah membantu di rumah Her karena jarak rumah kami yang sangat dekat. Aku memutuskan untuk berdiam diri saja di rumah, bukan karena tak ingin membantu tapi sudah beberapa hari ini aku merasa kurang enak badan, mungkin karena terlalu banyak pikiran. Her juga kelihatan sibuk mengurus pernikahan Ayahnya. Entah apa yang ada dipikirannya, tapi aku merasa kasihan akan nasib hidupnya.
“Assalamu alaikum”. Ada ketukan pintu di luar rumah. Aku segera bangun dari kursi malasku dan membuka pintu. “Wa alaikumsalam.” Aku menjawab salam saat membuka pintu depan. Ah, ternyata Adikku sudah pulang sekolah.
“Gimana sekolah hari ini?” Aku bertanya pada adikku.
“Ah, bosan, guru gak ada yang ngajar, pada bolos semua.” Adikku duduk di kursi dan melepas sepatunya.
“Memang guru boleh bolos?” Aku bertanya lagi.
“Boleh kali, payah semua gurunya.” Jawab adikku sambil masuk ke dalam kamarnya.
Aku hanya bisa melantunkan istighfar dalam hati. Aku sedikit prihatin dengan keadaan pendidikan di Indonesia. Bagaimana Indonesia dapat memiliki generasi penerus bangsa yang kompeten jika gurunya saja memberi contoh yang tidak baik! Dalam hati aku berjanji suatu saat akan menjadi guru yang baik dan berguna bagi orang-orang di sekelilingku.
Langit sudah berubah menjadi kehitaman. Hari ini benar-benar ramai, hari minggu yang melelahkan. Acara pernikahan ayah Her benar-benar menguras energiku. Aku merebahkan diri di kasur dan mengenang kembali acara tadi siang saat ijab qobul berlangsung. Aku melihat Her sedikit sedih, tampak airmata di sudut matanya. Mungkin ia belum siap memiliki Ibu baru. Tanpa sadar aku tertidur dan membawa bayangan-bayangan di mimpiku dan ketika aku membuka mata, sinar matahari sudah menyusup lewat jendela kamarku.
   
    Dua hari lagi liburanku habis. Aku harus kembali ke Jogja hari minggu pagi, tiket pesawat sudah ditangan. Masih enggan rasanya untuk pulang. Memikirkan Her hampir membuatku stres. Bagaimana bisa gadis pintar seperti dia hanya berteman dengan rumput dan tanah. Ia pasti memiliki mimpi dalam hidupnya. Aku harus mencari tahu. Segera ku langkahkan kakiku menuju kebun tempat Her bekerja. Aku melihat ia hanya sendirian disana. Kesempatan bagus, pikirku.
“Her.” Aku memanggil namanya. Ia kemudian menoleh kepadaku dan sedikit terkejut dengan kehadiranku.
“Kak Lovi.” Ia menjawab panggilanku. “Tumben kesini, ada apa?” Tanyanya padaku.
“Ah, cuma main saja. Bosan di rumah.” Jawabku spontan.
“Ooo.” Ia hanya ber-ooo tanpa bicara yang lain lagi.
“Her, apakah kamu punya cita-cita?” Tanyaku.
“Aku ingin menjadi guru, Kak.” Jawabnya.
“Kenapa kau ingin jadi guru?”
“Karena aku ingin semua anak-anak bisa sekolah dan menjadi pintar.” Jawabnya lagi.
Aku menarik nafas dan berpikir. Ah, ternyata impiannya sederhana, tapi itu impian yang mulia juga.
“Her, sebentar lagi tahun ajaran baru di mulai.” Aku berkata hati-hati. “Apakah kamu tidak mau melanjutkan sekolah? Masuk SMA?” Tanyaku.
“Mau kak.” Ada kesedihan dalam perkataanya.
“Lalu kenapa tak bilang pada Ayahmu?”
“Aku takut Kak, sejak Ibu meninggal tak ada yang benar-benar memperhatikan keinginanku.” Ia terisak. Aku segera memeluknya. Berusaha memahami kesedihan yang terjadi pada hidupnya. Aku membayangkan betapa sulitnya bagi seorang gadis yang baru berumur tiga belas tahun untuk bertahan di keadaan yang sulit seperti itu. Dalam hati aku memantapkan tekadku untuk memperjuangkan masa depan Her. Tak peduli apapun resikonya. Aku pamit pulang setelah ia tidak terlalu sedih lagi. Aku sudah menyiapkan rencana dan akan menjalankannya nanti malam. Aku harus berhasil!

    Setelah sholat magrib aku mengunjungi rumah Her. Aku sudah memberi tahu Ayahnya jika ada hal yang ingin aku bicarakan. Saat aku datang, Ibu baru Her sedang memberi makan Adik kecilnya. Aku duduk di ruang keluarga dengan gelisah, memikirkan kata-kata yang akan kuucapkan.
“Pak Cik...” Aku memulai pembicaraan. “Aku kesini ingin membicarakan tentang sekolah Her. Pak Cik pasti sudah tahu kalau Her ingin melanjutkan sekolah dan aku ingin mewujudkan impiannya.” Suaraku bergetar.
“Iya, tapi...”
“Tapi apa Pak Cik?” Aku memotong pembicaraannya dan tidak sabar untuk berkata lagi. “Her punya masa depan masih sangat panjang dan Her membutuhkan sekolah untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.” Tegasku.
“Aku mengerti.” Jawab Pak Cik singkat.
“Pak Cik tidak perlu khawatir tentang Baim sekarang. Ia sudah memliki Ibu baru dan aku yakin Ibu barunya itu dapat mengurus Baim dengan baik.” Aku merasa ada yang menatapku. Mulut Ibu baru Her sedikit terbuka seakan tak percaya dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulutku. Ia pasti sudah menganggapku lancang.

    Pembicaraan kami berakhir malam itu dan menghasilkan sebuah kesepakatan. Disinilah aku berada sekarang, di dalam bandara, mengantre untuk chek-in dan menunggu petugas memberikan nomor untuk koper-koper yang dimasukkan ke bagasi pesawat. Aku keluar setelah menyelesaikan proses chek-in, menyapa Ayah, Ibu, Adik, dan keluarga yang mengantarku ke bandara.

Pesawat Batavia Air dengan nomor penerbangan G-309 akan segera berangkat. Para penumpang dipersilakan memasuki ruang tunggu.

    Aku segera berpamitan dengan seluruh keluarga, memeluk mereka satu persatu. Menatap mereka dengan sedih karena aku tak akan melihat mereka dalam waktu yang lama. Aku melangkah memasuki ruang tunggu. Seorang pramugari membuka pintu masuk menuju landasan pesawat. Ku pegang erat tangan seorang gadis di sebelahku dan menaiki tangga pesawat. Pesawat segera take-off, terbang di udara. Gadis disebelahku tersenyum manis sambil mengucapkan terimakasih. Dia adalah Her dan aku telah berjanji untuk membantu mewujudkan mimpinya. Terbang bersamaku menuju Jogja, kota pelajar.

You May Also Like

0 komentar

GOODREADS

Vicantika (Nurlovi Lestari)'s books on Goodreads
Online Wedding Online Wedding
reviews: 7
ratings: 38 (avg rating 2.95)

Bride Wars Bride Wars
reviews: 2
ratings: 27 (avg rating 3.63)