Diam-diam aku mendiamkanmu



Hai, sudah lama jemariku tak bersentuhan denganmu. Rindukah kamu dengan aku? Entahlah. Mungkin tidak terlalu karena aku sering bolak-balik mengintipmu. Kamu tidak tahu kan? Jelas saja. Kamu memang lebih sibuk memperhatikan hal lain daripada aku.

Aku tidak akan marah (lagi). Aku hanya (pernah) kecewa karena (lagi-lagi) harus jadi pihak kesekian.

             "Diam itu artinya tidak peduli. Itu yang sudah lama aku lakukan diam-diam."

Dalam diam aku mulai menarik diri. Diam-diam aku tak lagi memperhatikanmu. Selalu diam setiap kali amarahmu berkobar. Hanya bisa diam tanpa berkata.

Kamu tahu kenapa? Karena kedewasaan yang tidak mengiringimu. Karena harusnya aku yang bersikap demikian, tetapi dalam kediamanku, aku  menjelajahi waktu dan terus membuka hati dan berbagai kata yang mereka lontarkan. Aku tak menelan kalimat-kalimat menyedihkan itu bulat-bulat. Aku memilah hingga menjadi untaian kata yang indah. Aku tidak lagi berkobar saat kumpulan makhluk itu mengusikku. Amarahku terkendali.

Selama perjalanan diam-diam yang telah kutempuh aku belajar bahwa perubahan yang baik tak perlu dikoarkan hanya agar diperhatikan sesama.

Kita sudah melewati fase remaja. Aku telah beranjak secara diam-diam sejak lama.
Lalu kamu? Akankah bertahan difase kekananakan yang menyebalkan itu?

Ini perpisahan yang tak kujanjikan. Tetapi aku secara-diam-diam akan pergi darimu. Selamat tinggal.

You May Also Like

0 komentar

GOODREADS

Vicantika (Nurlovi Lestari)'s books on Goodreads
Online Wedding Online Wedding
reviews: 7
ratings: 38 (avg rating 2.95)

Bride Wars Bride Wars
reviews: 2
ratings: 27 (avg rating 3.63)