Everythings happen for a reason

Teringat percakapanku dengan wanita paling luar biasa dalam hidupku tentang hidup.
Mami, aku memanggilnya dengan sebutan itu.
Mami selalu berkata bahwa segala sesuatu yang datang dan pergi dalam hidup kita sudah ditakdirkan untuk sebuah alasan.

Everythings happen for a reason.

Banyak yang datang ke dalam hidupku.
Sekedar singgah-pun juga ada. Tak terhitung lagi yang hanya sekedar singgah. Singgah membawa bahagia ataupun menorehkan luka.
Yang menorehkan luka-lah yang paling membekas, baik kenangannya maupun bekas lukanya.
Baik kenangan maupun bekas lukanya, keduanya memberikan pelajaran berharga untukku. Pelajaran hidup.
Pernah suatu ketika patah hati dan kecewa menyerangku. Segala cara kulakukan untuk mengobati patah hatiku. Termasuk kembali pada teman-teman (lelaki) yang pernah kutinggalkan.

Lelaki-lelaki itu, semuanya punya seseorang dalam hidup mereka. Dan aku nekat masuk.
Ada lelaki yang disukai sahabatku, ada pula lelaki players-punya kekasih tetap.
Aku menghabiskan waktu dengan mereka, masih mencoba mengesampingkan segala kemungkinan terburuk. Aku hanya ingin mengobati patah hatiku.

Satu hal yang selalu aku ingat: Jangan mengambil milik orang lain!
Aku menyimpan kalimat itu baik-baik di otakku. Dalam keadaan apapun, ketika kamu  ingin melakukan sesuatu yang buruk kepada orang lain, pikirkanlah jika kamu berada di posisi orang itu.
Rasakanlah jika seseorang mengambil milikmu, sakit bukan?
Oleh karena itu, jangan mengambil milik orang lain apapun alasannya.

Lelaki yang baru saja datang, aku tidak tahu siapa dia. Tiba-tiba datang dan membuatku harus menyesuaikan diri tiba-tiba. Dia bukanlah orang sempurna. Penuh kekurangan, kelemahan.
Mami bilang, mungkin saja lewat kedekatan kami, ia akan berubah menjadi lebih baik.
Semoga saja ia akan menjadi pribadi yang lebih baik.

Berbagai hal telah aku lewati. Bermacam orang telah aku hadapi. Semua hal itu membawa aku pada satu keadaan, menjadi dewasa.

Dewasa menurutku adalah soal usia (itu yang pertama). Usia yang semakin tinggi menjadikan pengalaman kita juga bertambah banyak.
Dewasa itu berarti menjadi seperti padi. Semakin berisi haruslah semakin merunduk. Rendah hati, bukan rendah diri.


Spendabes, 10.00 wib. (disela-sela istirahat mengajar).

You May Also Like

0 komentar

GOODREADS

Vicantika (Nurlovi Lestari)'s books on Goodreads
Online Wedding Online Wedding
reviews: 7
ratings: 38 (avg rating 2.95)

Bride Wars Bride Wars
reviews: 2
ratings: 27 (avg rating 3.63)