Cinta yang Marah (2)

Sebagai perempuan yang percaya pada romansa, saya berharap ini akan menyenangkan. Dan terjadilah seperti yang saya harapkan. Sungguh membuat hati berbunga ketika menemui lelaki yang tatapannya penuh binar cinta. Matanya. Tatapannya. Saya mau itu berlangsung selamanya.

Tetapi, saya sadar, tidak ada yang berlangsung lama, termasuk perasaan. Saya sadar, perasaannya terhadap saya terburu-buru. Saya tidak bisa menyalahkannya. Dia yang tahu perasaannya sendiri, dan saya juga tahu.

Saya tahu, saya tak bisa menghilangkan perasaan ini, secepat yang dia bisa. Berlalu dari hadapan saya dengan tatapan baik-baik saya.

Saya yang tidak baik-baik saja. Saya patah. Hati saya terluka. Jiwa saya sekarat.

Tetapi saya masih tersenyum. Masih tertawa, meski setelah itu air dari mata menderas.

Saya masih menyodorkan bahu untuknya bersandar. Meski saya berharap ia melakukan hal sama, tetapi saya bungkam.

Saya ingin berada dalam pelukannya, dan menangis sejadinya. Sampai semua ketidakrelaan di dalam hati ini raib.

Saya tidak berharap ia pulang pada saya. Saya tahu, itu egois sekali. Saya cuma mau dia ada. Saat saya tertawa, menangis, marah, apa pun. Dia cuma perlu ada.

Ketika dia memasuki kehidupan saya tanpa permisi, lalu menempati ruang kosong di hati saya, sejak saat itu pula dia harusnya tahu, tak mudah melepaskan diri. Hati saya bukan untuk sembarang orang. Saya memilih dan menyeleksi siapa pun yang antre di depan pintu. Ketika saya mengizinkan ia masuk, ia akan terpenjara sampai saya sendiri yang membebaskan. Saya akui, saya memang se-egois itu.

Pesan saya, berhati-hatilah saat jatuh hati. 


Lalu, bagaimana muara jalinan asmara ini? Saya tidak tahu. Saya lelah menebak-nebak. Saya lelah berpikir. Saya lelah mencari solusi. Saya mau jalan langit yang bekerja. 









You May Also Like

0 komentar

GOODREADS

Vicantika (Nurlovi Lestari)'s books on Goodreads
Online Wedding Online Wedding
reviews: 7
ratings: 38 (avg rating 2.95)

Bride Wars Bride Wars
reviews: 2
ratings: 27 (avg rating 3.63)