Dear, Lovi #1

by - 19.53

Hai, Lovi....

Ini adalah dirimu yang berusia 27 tahun. Usia yang dapat dikatakan dewasa, meski kau masih saja menganggap bahwa dirimu adalah anak-anak yang terjebak dalam tubuh orang dewasa.  Aku tahu terkadang kau juga menikmati jadi orang dewasa.

Akhir-akhir ini ... entah ... mungkin seringkali kepalamu dipenuhi beragam pemikiran yang membuat hati sesak. Masalah dari Sabang sampai Merauke masuk ke kepalamu tanpa diundang, membuat perasaanmu kacau balau. Ingin marah, menangis .. entah.

Sejak siang telapak tangan dan kakimu dingin, dadamu sesak, kepalamu mau meledak. Namun, kau masihlah Lovi yang kukenal tangguh. Masih berjalan ke sana-ke sini, bahkan masih berbicara dengan orang-orang. Hanya satu yang tak bisa bohong, tatapan sepasang matamu yang kehilangan cahayanya. Kau terlihat sedih dan aku tidak suka.





Ketika menulis ini, ada satu pertanyaan yang kau pikirkan. Satu yang akhirnya bercabang.

"Sudahkah kau jadi anak yang baik bagi kedua orangtuamu, 
jadi teman yang baik bagi orang-orang  di sekitarmu?"

Kau ingin masuk sekolah A, orangtuamu ingin kau masuk sekolah B. Ketika lulus SMP, kau bahkan tidak tahu akan masuk SMA atau SMK. Lalu kau masuk SMA. Lulus SMA, kau bimbang akan masuk jurusan apa. Kau hanya ingin masuk universitas tanpa menjalani serangkaian tes seperti saat masuk SMP atau SMA. Aku tahu kau sudah lelah dan ingin merasakan berjalan mengikuti arah mata angin. Untunglah kau tiba di tujuan tanpa tersesat meski peta yang kau dapat sedikit terlambat.

Kau tidak ingin jadi pengajar, tapi aku bangga padamu. Kau bertahan selama 5 tahun ... kurasa   37 tahun mendatang pun kau pasti mampu. Pekerjaan ini membuatmu jadi agak lebih manusiawi, meski kau memang jarang tersenyum.

Kau jadi lebih sabar, bisa berkompromi, sedikit terbuka, bahkan tahu caranya memaki orang saat kesal (meski dalam hati). Sekali lagi aku akan bilang bahwa aku bangga padamu.

Kau merelakan juga menerima banyak hal agar orang-orang di sekitarmu bahagia. Kurasa kau kadang terlalu banyak berkorban, terlalu memikirkan perasaan orang lain sampai kau akhirnya terluka, menangis sendirian, dalam diam.

Kau harusnya pergi saat kau ingin pergi. Marah, mengamuk, atau apa pun saat hatimu membara. Namun kau tidak bisa. Kadang kupikir lagi, jangan-jangan kau memang terlahir untuk tidak egois.


Status WhatsApp-mu hari ini nyaris jadi titik-titik. Aku tahu kau sudah lama ingin melakukan itu. Kau penasaran siapa yang akan peduli padamu. Apa akan ada orang yang akan menerimamu meski kau kacau dan payah.

Aku tahu, sekali lagi aku tahu bahwa kau penuh dengan ketakutan. Kau bahkan tidak mengatakan perasaanmu meski kau sangat ingin memiliki sesuatu atau seseorang. Kau akan mundur diam-diam, lalu perlahan menghilang jika ada orang yang menginginkan hal sama.

Yang kau inginkan adalah diterima, apa pun kekurangan atau kesalahan yang kau punya. Entah sifat penakutmu, sifat payahmu. Lalu, kau akan balas melimpahinya dengan semua kelebihan yang kau miliki. Kau hanya ingin diterima.

Percayalah, kau sudah jadi anak yang baik meski kau masih tidak suka membalas pesan, masih tidak suka berbicara di telepon. Namun, kau selalu jadi garda terdepan saat keluargamu memiliki masalah.
Percayalah bahwa kau adalah teman yang baik meski kau jarang menanyakan kabar mereka. Namun, kau ada saat mereka berkeluh-kesah.

Aku harap kau pun bisa berkeluh-kesah pada orang lain saat sedih dan kesal. Aku harap kau akan belajar memercayai orang lain. Kau masih takut pada kenyataan bahwa kau akan merepotkan mereka. Atau sebenarnya kau hanya bisa memercayai dirimu sendiri?

Tidak? Oke, kau sudah belajar berkeluh-kesah.

Hmmm .... tetapi, sungguh, ketakutanmu masih terlalu besar.

Untuk hari ini, tidurlah. Biasanya tidur akan melenyapkan segala ketakutanmu. Jika esok hari saat membuka mata, perasaanmu masih sama, aku akan berbicara lagi padamu.


Cukup langit yang biru, hatimu jangan ikut pilu membiru.

Sampai jumpa, Lovi....





You May Also Like

0 komentar

GOODREADS

Vicantika (Nurlovi Lestari)'s books on Goodreads
Online Wedding Online Wedding
reviews: 7
ratings: 38 (avg rating 2.95)

Bride Wars Bride Wars
reviews: 2
ratings: 27 (avg rating 3.63)